Jumat, 03 Februari 2012

Sepenggal Kisah Di Ujung Genteng

Saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini setelah melakukan perjalanan ke Ujung Genteng pada bulan Juli lalu. Pada awalnya, perjalanan ini merupakan sebuah “ide bodoh” saya dan beberapa teman yang ingin mencoba sesuatu yang baru selain naik gunung. Dan pada akhirnya kami semua sepakat untuk mencoba pergi ke daerah Ujung Genteng.

Perjalanan kami dimulai pada hari Kamis, 24 Juli 2009. Saat itu kami berempat berangkat dari stasiun UI menuju Bogor untuk selanjutnya menaiki kereta yang bernama Gunung Geulis tujuan Sukabumi yang hanya berangkat satu kali dalam sehari dari Bogor setiap jam 17.00. Perjalanan dari Bogor ke Sukabumi dengan menaiki kereta ditempuh dalam kisaran waktu dua jam saja.

Setelah sampai di stasiun Sukabumi, kami segera bernegosiasi dengan supir angkot disana untuk membawa kami ke terminal Lembursitu. Setelah sepakat kami pun diantarkan menuju terminal Lembursitu untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis MGI tujuan Surade. Sempat terjadi masalah saat sedang bernegosiasi harga dengan kondektur bus, namun permasalahan tersebut dapat diselesaikan.

Cobaan bagi kami terjadi pada saat kami menaiki bis ke Surade. Dengan jangka waktu yang lumayan lama yaitu sekitar 3 jam, kami harus bertahan dengan kondisi jalan yang rusak dan berkelok-kelok. Sehingga bagi mereka yang jarang bepergian, mungkin dapat mengalami mabuk darat. Jadi lebih baik selama perjalanan jangan biarkan perut kosong dan sediakan obat anti mabok agar tidak mengalami kejadian seperti teman saya. Hehehehe.....

Setelah 3 jam “tersiksa” dalam bis, kami sampai di Surade. Kami pun “disambut” oleh para tukang ojek yang memang memberikan pelayanan 24 jam nonstop disana. Dan kami menolak secara baik-baik tawaran para tukang ojek tersebut dengan mengatakan bahwa ingin beristirahat dulu di mesjid yang terletak tidak jauh dari tempat kami turun. Yah...Biar kayak begini setidaknya kami lumayan beriman. Hehehe...

Setelah memakan bekal diselingi oleh suguhan martabak manis dan kopi yang kami beli dari hasil modal bersama, kami pun beristirahat di selasar masjid. Udara malam yang cukup dingin dan diiringi dengan “paduan suara” dari nyamuk yang cukup mengganggu, kami beristirahat dengan bermodalkan sebuah jaket dan sarung saja. Sehingga terkadang kami terbangun karena kedinginan ataupun gigitan nyamuk yang “centil”.

Kami bangun setelah mendengar suara adzan subuh yang sangat keras. Yah...Akhirnya dengan badan yang masih pegal dan gatal-gatal karena gigitan nyamuk semalam, kami pun ikut-ikutan melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan warga sekitar. Setelah shalat subuh, kami dihampiri lagi oleh para tukang ojek yang kemarin malam menawarkan jasanya pada kami. Dengan beralasan bahwa budget yang kami punya terbatas, mereka pun menyerah dan tidak menawarkan jasanya lagi. Dan pada akhirnya kami mendapatkan angkot yang menuju Ujung Genteng.

Selama dalam perjalanan, kami kembali bernegosiasi dengan supir yang mengangkut kami agar mau mengantarkan ke tempat Konservasi Penyu yang terletak di Ujung Genteng. Setelah mempertimbangkan, mengukur, menimbang, dan memikirkan baik-baik, kami akhirnya menyetujui harga yang ditawarkan oleh si supir angkot tersebut untuk mengantar ke tempat Konservasi Penyu.

Sesampainya di tempat Konservasi Penyu, kesan pertama yang kami dapatkan adalah sebuah tempat yang sangat kumuh, tidak terawat, dan buruk. Pada saat kami datang hanya ada dua petugas yang berjaga pagi itu. Setelah meminta ijin, kami segera menuju pantai yang dapat dikatakan masih sangat bersih dan indah. Di pantai tersebut pada waktu siang hari kita bebas melakukan apa saja, asalkan jangan berenang disana karena ombaknya sangat besar.

Setelah puas menikmati keindahan pantai, kami segera mengambil peralatan masak untuk membuat sarapan pagi. Sarapan pagi kami cuma ala kadarnya, yah...sekedar untuk mengisi perut agar tidak kosong sama sekali. Setelah makan timbul hasrat yang sangat menggoda kami untuk tidur. Begitu terbangun ternyata hari telah siang. Akhirnya kami memasak lagi untuk yang kedua kalinya, namun kali ini agak berbeda. Mengapa? Sebab pada waktu sarapan kami makan hanya mie instant, kini kami makan dengan nasi setelah membeli beras di kampung penduduk terdekat yang ditempuh dalam waktu 1 jam dengan berjalan kaki. Benar-benar terasa nikmat nasi yang kami makan saat itu.

Setelah makan kami segera membereskan dan membersihkan semua peralatan makan kami lalu bergegas untuk mandi. Setelah mandi, kami pun segera meminta ijin untuk mendirikan tenda dan ikut serta dalam melepaskan anak penyu atau yang sering juga disebut tukik. Kami mengisi daftar hadir dan membayar uang registrasi. Pada saat melakukan pendaftaran ini, saya berbincang banyak dengan kepala konservasi penyu ini. Dan dari obrolan tersebut saya mendapatkan info bahwa konservasi penyu di ujung genteng merupakan sebuah tempat bertelur bagi para penyu hijau dengan jumlah tertinggi di Indonesia. Bahkan jika sedang musim bertelur bisa sampai ada 40 ekor penyu yang bertelur dalam semalam. Hal ini biasanya terjadi antara bulan Juli hingga Desember. Dari keterangan yang diberikan beliau, ternyata tempat konservasi penyu ini pada awalnya dimiliki oleh seorang pengusaha dan kemudian diambilalih oleh pemerintah.daerah Sukabumi. Jika pada waktu masih dikelola oleh pengusaha jumlah telur menetas yang dilaporkan hanya dibawah 100 ekor, namun semenjak diambilalih oleh Pemda jumlahnya meningkat hingga angka 800-an.

Pada saat pukul 17.00 kami ikut melepaskan tukik di pantai. Konon ada sebua mitos yang mengatakan bahwa orang yang melepaskan tukik akan berumur panjang. Sehingga tidak jarang, menurut para penjaga seringkali datang pasangan suami istri yang baru ataupun akan menikah datang kesana untuk melepaskan tukik dengan harapan usia pernikahan mereka dapat awet. Setelah melepaskan tukik kami menghabiskan waktu menjelajahi pantai dengan melihat pemandangan matahari terbenam. Pada saat maghrib kami segera kembali ke tempat penangkaran penyu untuk menunggu datangnya penyu yang akan bertelur di pantai. Menurut para pengawas tempat konservasi ini, umumnya penyu-penyu tersebut bertelur antara pukul 19.00 hingga jam 3 dinihari.

Pada saat menunggu tersebut, kami semua berkumpul di depan teras sambil mengobrol dengan para pengawas dan pengunjung disana. Kebetulan pada saat itu ada mahasiswa dari Sekolah Tinggi Perikanan (STP) yang sedang melaksanakan praktikum disana. Dan selain mahasiswa dari STP ada juga empat mahasiswa dari ITB yang sedang melaksanakan penelitian disana. Suasana saat itu sangat akrab dan hangat. Kami seakan berada di rumah sendiri karena mereka menyambut kami layaknya keluarga. Kami pun saling bertukar makanan dan menyantap makan malam bersama-sama.

Setelah makan malam usai, kami pun kembali mengobrol dan bersenda gurau sambil menunggu informasi dari para penjaga yang berada di pantai mengenai telah naiknya penyu ke pantai untuk bertelur. Tidak berapa lama kemudian, ada satu penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Kami semua segera bergegas menuju tempat penyu bertelur tersebut ditemani oleh penjaga. Pertama kali kami melihat proses penyu bertelur, kami semua merasa takjub dan kagum. Wajar saja, selain itu adalah pengalaman pertama kali melihat penyu hijau bertelur, kami juga dibuat kagum dengan ukuran penyu yang hampir sebesar meja makan. Sungguh sebuah keajaiban alam.

Malam itu langit sangat tidak bersahabat. Pada saat sedang melihat penyu bertelur, tiba-tiba hujan turun. Kami pun dengan segera kembali ke tempat pos penjagaan tempat kami mengobrol tadi. Dengan ditemani oleh kopi dan rokok, kami pun kembali berbincang sembari menunggu kedatangan dua orang teman kami yang menyusul ke tempat penangkaran penyu. Sekitar jam 11.30an, dua orang teman kami yang ditunggu pun datang. Dan sekitar jam 1.00, ada informasi dari penjaga yang berada di pantai bahwa ada penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Kami pun bergegas kembali ke pantai dengan penerangan yang seadanya. Sayangnya, belum lama kami melihat proses penyu bertelur hujan kembali turun. Terpaksa kami kembali lagi ke pos penjagaan dan segera beristirahat.

Sekitar jam 5.30 pagi kami bangun. Sambil mengumpulkan “nyawa” yang masih bertebaran pada saat kami sedang tidur, kami bersiap-siap menyediakan sarapan. Sekitar pukul 09.00, kami sarapan bersama. Setelah itu kami membereskan peralatan untuk bersiap-siap pulang. Sekitar pukul 10.00, kami telah siap untuk pulang kembali ke Jakarta. Kami berencana menyusuri pantai sejauh kurang lebih 6-8 km untuk mencapai jalan besar. Perjalanan menyusuri pantai memakan waktu setidaknya dua jam. Selama menyusuri pantai, kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Bahkan kami semua beranggapan bahwa pantai di daerah Ujung Genteng jauh lebih indah dan terawat daripada di Bali.

Setelah mencapai jalan besar, kami semua menunggu angkot untuk mencapai Surade. Sesampainya di Surade, kami segera membersihkan diri dan melaksanakan ibadah di mesjid tempat kami tidur pada dua malam sebelumnya. Karena hari telah siang, kami pun mencari makanan di warung-warung terdekat. Setelah menyantap makan siang, kami segera bernegosiasi dengan supir mobil L-300 untuk mengantarkan kami sampai ke terminal Lembur Situ. Akhirnya, negosiasi pun berhasil. Kami bisa mendapatkan harga yang cukup terjangkau pada saat itu.

Perjalanan kami menuju Lembur Situ, kembali disuguhi dengan jalan rusak dan berkelok-kelok. Yah...Akhirnya teman kami ada lagi yang mengalami “jackpot” selama perjalanan. Setelah diguncang selama hampir dua setengah jam, kami sampai di Lembur Situ. Kami segera mencari angkot untuk mengantarkan kami ke stasiun Sukabumi. Karena kami berencana pulang dengan menaiki kereta esok subuhnya. Namun sebelum menuju stasiun, kami ingin berjalan-jalan menuju alun-alun Sukabumi dan mencari makanan. Suasana kota Sukabumi pada malam itu sangat ramai dan banyak sekali “pemandangan” dari para wanita Sukabumi yang terkenal dengan “kegeulisannya”. Hehehehe....

Tiba-tiba tercetus ide bodoh dari kami untuk menumpang bermalam di Polres Sukabumi. Kebetulan salah seorang dari kami adalah anggota Polsek Cilandak. Jadi kami memajukan dia untuk bernegosiasi dengan polisi Sukabumi. Pada awalnya kami semua mengira telah disetujui untuk bermalam di Polres Sukabumi, namun melihat jumlah kami yang lumayan banyak, mereka pun berubah pikiran dan ingin mengantarkan kami pulang hingga Bogor malam itu juga. Tetapi setelah menjelaskan bahwa kami ingin pulang pagi hari besok dengan menaiki kereta, komandan polisi akhirnya membatalkan untuk mengantarkan kami hingga Bogor dan memberikan kami sejumlah uang saku. Sungguh beruntungnya kami semua, karena dengan uang yang diberikan oleh sang komandan, kami bisa membeli makan malam ayam bakar. Hehehehe...

Setelah makan malam, kami akhirnya segera ke stasiun Sukabumi untuk bermalam dan menunggu kereta esok pagi. Kami pun meminta ijin dari penjaga stasiun, setelah itu dengan bermodalkan sarung dan jaket serta alas seadanya, kami segera tertidur dengan lelap dan terbangun keesokan paginya setelah banyak orang memadati peron untuk menaiki kereta ke Bogor.

Sehabis menunaikan shalat Subuh, kereta pun berangkat. Hampir semua dari kami tertidur di dalam perjalanan karena kelelahan dan kurang tidur selama berada di Ujung Genteng. Suasana di dalam kereta pada pagi hari sangatlah ramai. Berbeda sekali dengan kereta yang kami naiki sore hari pada saat kami berangkat ke Sukabumi. Kami sampai di stasiun Bogor sekitar jam 07.00 pagi dan segera menaiki kereta yang menuju Jakarta saat itu juga.

Begitulah sepenggal kisah perjalanan kami ke Ujung Genteng. Bukan maksud kami ingin menyombongkan diri, namun kami ingin mengajak kita semua untuk mengambil segala hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari sebuah perjalanan. Kami merasa banyak mendapatkan pelajaran pada saat itu seperti pentingnya persaudaraan, rasa kekeluargaan, rasa kebersamaan, dan banyak pelajaran lainnya yang mungkin terkadang seringkali kita lupakan. Tulisan ini juga didedikasikan kepada mereka yang memiliki kepedulian terhadap pengupayaan konservasi alam di Indonesia. Semoga pemerintah Indonesia lebih bisa memperhatikan lagi seluruh kekayaan alam negeri Indonesia yang sangat banyak jumlahnya. Karena itu merupakan harta yang tidak ternilai harganya.


(in memoriam : Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat dan saudara kami Rendi yang ketika itu ikut di dalam perjalanan ini. Semoga amal ibadah Almarhum diterima di sisi-Nya. Aminn..)